Mengenal Theresa May, Perdana Menteri Inggris yang Baru
![]() |
Theresa May, Perdana Menteri Inggris yang Baru. (BBC) |
Memiliki selera busana yang unik dan berani. Sepatu hak tinggi bermotifkan kulit harimau, baju strapless hitam setinggi lutut.Hingga kerap disebut The New Cara Delevingne.
Theresa May perlahan menapaki jalan menuju Downing Street. Pengalaman politik yang panjang membuatnya semakin diunggulkan.
Karir politiknya dimulai pada Pemilu Parlemen 1997 saat terpilih menjadi anggota parlemen mewakili Kota Maidenhead. Lalu dua tahun setelah itu, May bergabung dalam kabinet bayangan sebagai menteri urusan pendidikan.
Pada 2002, dia menjadi wanita pertama yang mengisi posisi ketua harian Partai Konservatif. Saat menjabat Menteri Senior urusan Dalam Negeri pada 2010, May kian diperhitungkan sebagai salah satu politisi senior di Inggris. Wanita lulusan Universitas Oxford ini merupakan salah satu Menteri Senior urusan Dalam Negeri yang menjabat paling lama dalam sejarah Inggris.
Prestasi politik paling cemerlang dalam karir dicapainya pada 2013. Kala itu, dia mampu mendeportasi Abu Qatada ke Yordania, sesuatu yang gagal dilakukan oleh para pendahulunya di Departemen Dalam Negeri. Abu Qatada yang mencari suaka di Inggris diduga terkait dengan kelompok teroris Al Qaeda.
May beberapa kali menegaskan visinya untuk mempersatukan masyarakat Inggris, yang terbelah pasca referendum keluar dari Uni Eropa, yang dikenal sebagai Brexit.
“Kita butuh visi baru yang tegas dan berani untuk masa depan negara ini, negara yang hadir tidak hanya untuk beberapa kelompok elit, namun untuk semua orang, orang-orang menginginkan sesuatu yang lebih penting yaitu persatuan antara faksi yang berbeda pendapat soal Brexit di dalam tubuh partai Konservatif,” tegas May.
Dia adalah salah satu pendukung Brexit. Namun, May menggarisbawahi bahwa dirinya tidak akan membawa Inggris keluar dari Uni Eropa hingga akhir tahun 2016 sebelum negosiasi final tercapai.
“Perhitungan suara telah dilaksanakan, angka partisipasi cukup tinggi dan publik telah memberikan keputusan mereka, sehingga tidak harus ada lagi usaha untuk bergabung kembali dengan Uni Eropa atau melakukan referendum kedua," ujar May.
Soal Free Movement Policy, salah satu kebijakan Uni Eropa, May menekankan bahwa keberlangsungan perusahaan-perusahaan Inggris untuk melakukan perdagangan dalam sistem satu pasar tetap menjadi prioritasnya. Namun, dia akan tetap mengontrol orang-orang dari Eropa yang akan masuk ke Inggris.
Di sinilah perbedaan mencolok antara May dan rivalnya, Leadsom dalam memandang status penduduk Uni Eropa yang tinggal di Inggris. May menolak untuk menjamin bahwa mereka akan diizinkan untuk tetap tinggal, sementara Leadsom berpendapat sebaliknya.
May sendiri memiliki latar belakang bisnis, sebelum bergabung menjadi anggota parlemen, dia bekerja di Bank of England dan sempat menjadi Kepala Unit Bagian Eropa di Asosociation for Payment Clearing Services. May menyatakan bahwa dia mempunyai peyakit diabetes. Menikah pada 2008 dan tidak dikaruniai anak hingga saat ini.
Komentar
Posting Komentar